Dua Pekan Pascabencana, Korban di Aceh–Sumatra Nyaris Tembus 1.000 Jiwa

Daerah, Peristiwa1246 Dilihat
banner

JAKARTA, jejakdigitalindonesia.co.id – Hampir dua pekan berlalu sejak bencana banjir bandang dan tanah longsor berskala besar melanda wilayah Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar) pada akhir November lalu. Dampak bencana tersebut masih dirasakan luas, dengan jumlah korban jiwa mendekati seribu orang.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Kamis pagi (12/11), total korban meninggal dunia tercatat mencapai 971 orang. Aceh menjadi provinsi dengan angka kematian tertinggi, yakni 391 jiwa, disusul Sumatra Utara sebanyak 340 jiwa dan Sumatra Barat 240 jiwa. Selain itu, sekitar 5.000 warga dilaporkan mengalami luka-luka, sementara 255 orang masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian.

BNPB mencatat kerusakan masif akibat bencana tersebut. Sebanyak 157.900 unit rumah dilaporkan rusak di 52 kabupaten terdampak. Kerusakan juga meliputi 1.200 fasilitas umum, 219 fasilitas kesehatan, 581 fasilitas pendidikan, 434 rumah ibadah, 290 gedung perkantoran, serta 498 jembatan.

Jumlah warga yang terpaksa mengungsi hampir mencapai satu juta jiwa. Hingga saat ini, total pengungsi di tiga provinsi tersebut tercatat sebanyak 902.545 orang.

Upaya pencarian korban yang masih hilang terus dilakukan oleh tim gabungan, bersamaan dengan pembukaan kembali akses jalan dan jalur transportasi yang sebelumnya terputus akibat banjir dan longsor.

Aceh dan Sumut Perpanjang Status Darurat

Pemerintah Aceh memutuskan memperpanjang Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi selama 14 hari, terhitung mulai 12 hingga 25 Desember 2025. Keputusan tersebut diambil menyusul hasil peninjauan lapangan yang menunjukkan kebutuhan waktu tambahan untuk rehabilitasi dan pemulihan infrastruktur.

“Kami sudah melakukan survei lapangan dan menilai perlu perpanjangan dua minggu lagi, terutama untuk penanganan rehabilitasi dan infrastruktur,” ujar Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem di Meuligoe Gubernur Aceh, Rabu (10/12) malam.

Mualem juga menekankan pentingnya percepatan distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan gas ke sejumlah wilayah yang masih terisolasi, seperti Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Timur, Aceh Tamiang, dan Aceh Utara.

“Stok BBM di wilayah tersebut masih terbatas, tetapi akses akan terus kita percepat,” katanya.

Langkah serupa dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatra Utara yang memperpanjang masa tanggap darurat banjir dan longsor selama dua pekan, yakni dari 10 hingga 23 Desember 2025. Pemerintah daerah menyebutkan, sebanyak 18 kabupaten/kota terdampak masih berada dalam kondisi belum aman.

Sementara itu, di Sumatra Barat, pemerintah setempat melakukan pemakaman massal terhadap 24 korban banjir bandang di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bungus, Teluk Kabung, Kota Padang, pada Rabu siang. Pemakaman dilakukan karena hingga hari ke-12 pascabencana, seluruh jenazah tersebut belum berhasil diidentifikasi dan tidak ditemukan kecocokan DNA dengan keluarga korban.

“Pemakaman dilakukan dalam satu liang kubur. Jadi, 24 peti jenazah dimakamkan bersama dalam satu lubang,” ujar Sekretaris Daerah Provinsi Sumatra Barat, Arry Yuswandi.

(Fauzy)